PROSPEK DAN HAMBATAN SEKOLAH PENERBANGAN DI INDONESIA
JAKARTA – ECBISRESCONS Sampai saat ini bisnis usaha “Sekolah Penerbangan” di Indonesia masih memiliki prospek yang sangat cerah. Berberapa faktor pendukung diantaranya adalah karena jumlah sekolah penerbangan di Indonesia yang masih relatif sedikit, sementara kebutuhan pilot cukup besar dan terus meningkat dalam setiap tahunnya.
Menurut Kementrian Perhubungan, Sekolah Penerbangan yang saat ini tergolong cukup dikenal diantaranya adalah Eagle Air Academy, Sunrise Aviation, Aero Flyer Institute, All Asia Aviation Academu, Flybest Flight Academy, Deraya Flying School, STPI Curug, ATKP Surabaya, Bandung Pilot Academy, Alfa Flying School, Bali International Flight Academy, Proflight Scholl, Nusa Flying School dan Dirgantara Pilot School.
Sumber yang sama juga menyebutkan bahwa hingga tahun 2015 kebutuhan pilot di Indonesia kurang lebih mencapai 500 pilot, sementara pilot yang dihasilkan dari Sekolah Penerbangan tersebut setiap tahunnya hanya sebanyak 150 pilot, ini berarti setiap tahunnya Indonesia kekurangan pasok pilot sebanyak 350 orang. Otomatis kekurangan pilot baru tersebut banyak diisi oleh pilot pilot asing dari berbagai negara diantaranya dari Eropa, Korea dan Amerika Selatan.
Peningkatan kebutuhan pilot tersebut sebagai dampak dari tingginya masyarakat yang membutuhkan jasa transportasi udara. Hal itu membuat maskapai penerbangan berusaha untuk menambah jumlah pesawatnya dan pada gilirannya menambah pula kebutuhan akan pilotnya.
Sebagai gambaran seperti Lion air yang telah memesan sebanyak 230 pesawat baru Boeing 737-900 MAX, Citilink Garuda Indonesia LCC nya maskapai Garuda juga memesan sekitar 15 Airbus 320. Kartika Airline juga memesan pesawat komersial keluaran pabirkan Sukhoi Russia sebanyak 25 pesawat, belum lagi anak Lior air Wing air juga lebih memilih pesawat turbo propeller bikinan pernacis ATR. Garuda Indoensia saat ini juga memilih dua pilihan armada seater 100 pesawat pabrikan Bombardier, Canada dan Embrarer ,Brasil untuk melayani penerbanagn feeder nya nanti. Sriwijaya air juga tak mau kalah –malah sudah memesan 15 an pesawat baru dari Embrarer, Brasil. Ini semua menunjukkan betapa cerahnya prospek industri penerbangan dan “Sekolah Penerbangan” di Indonesia.
Mr. Tony Tyler yang adalah Chairman IATA juga pernah memprediksi bahwa perkembangan pasar penerbangan niaga di Asia Pasifik tahun ke depan yang paling besar adalah di China, India, dan Indonesia , maka tak heran sampai dengan tahun 2020 di Indonesia akan tetap memerlukan SDM baru 2 juta di bidang penerbangan mulai dari pilot, pramugari, staff mekanik, staf reservasi, staff ticketing, dan karyawan karyawan di bandara di seluruh Indonesia.
Hambatan
Cerahnya prospek bisnis penerbangan dan sekaligus “Sekolah Penerbangan” di Indonesia ini bukannya berarti tanpa hambatan atau kendala. Kendala utama dalam memenuhi kebutuhan pilot di Indonesia adalah karena tingginya biaya sekolah penerbangan di Indonesia.
Siapa yang tidak tertarik menjadi seorang penerbang atau pilot, tidak dapat dipungkiri menjadi pilot bagi sebagian orang merupakan pekerjaan yang diimpikan. Pendapatan jauh di atas rata-rata pekerjaan lain, fasilitas yang bagus, kesempatan jalan-jalan gratis ke berbagai kota di seluruh Indonesia bahkan seluruh dunia adalah salah satu alasannya. Diperoleh informasi untuk seorang pilot baru diperkirakan memiliki gaji yang sangat fantastik yaitu sekitar 20 jutaan per bulan, ini belum termasuk berbagai profit lainnya.
Kondisi seperti inilah yang membuat animo masyarakat terhadap sekolah penerbangan ini sangat tinggi. Namun bukan berarti jalan menuju impian tersebut dapat ditempuh dengan mudah, karena selain persyaratan tes yang lumayan rumit, siswa juga diharuskan untuk menyediakan dana yang tidak sedikit. Puluhan hingga ratusan juga harus rela dikorbankan jika ingin mengecap pendidikan di sebuah sekolah penerbangan.
Total biaya pendidikan satu pilot di Indonesia sekitar Rp 500 juta-Rp 700 juta. Untuk menjadi pilot, seorang calon pilot yang bersekolah sekolah penerbangan (flying school) harus menyelesaikan pendidikannya di sekolah penerbangan (flying school), dimulai dari first flight, first solo, first cross country, PPL (Private Pilot License) , CPL (Commercial Pilot License), hingga Multi Engine dan Instrument Rating yang menghabiskan jam terbang sebanyak 150 jam terbang. Berikut uraian jumlah Sekolah Penerbangan beserta biaya kuliahnya.
Pembangunan Sekolah Penerbangan
Untuk mengantasipasi kurangnya jumlah pilot sekolah penerbangan ini, PT CIMB Niaga telah menggelontorkan dana sekitar Rp 5-7,5 miliar per tahun untuk mendukung pembiayaan pendidikan siswa di sekolah penerbangan Bali International Flight Academy (BIFA).
Menurut Business Banking Director CIMB Niaga, Handoyo Soebali, pembiayaan tersebut diberikan kepada calon pilot yang akan masuk pelatihan di BIFA. Kurang lebih 50 persen dari biaya pendidikan di BIFA dapat dialihkan ke CIMB Niaga yaitu seusai kesepakatan antara CIMB Niaga bersama PT Bali Widya Dirgantara yang membawahi BIFA dan PT Indonesia AirAsia. Dalam kesepakatan tersebut setiap calon pilot akan dibiayai sekitar Rp 300-500 juta berupa pinjaman. Biaya tersebut dapat dibayar setahun sesudah pelatihan dilakukan.
Selain memberikan bantuan dana PT Bali Widya Dirgantara juga melakukan investasi sebesar Rp. 20 milyar untuk membuka Sekolah Penerbangan di Solo. Sekolah pilot bertaraf internasional ini berlokasi di Bandara Adi Soemarmo Solo. Sekolah pilot swasta ini juga sudah mengantongi Commercial Pilot License dan Instrument Rating dari Kementerian Perhubungan. Untuk mendirikan sekolah penerbangan di Solo yang membutuhkan dana yang cukup besar tersebut, PT Bali Widya Dirgantara harus menggandeng sepuluh investor yang bersedia menanamkan modalnya. (HW)
Jl. Robusta Q7/1 Pondok Kopi Jakarta 13460 | Phone/WA : (+62) 0819 0538 1421 | Email : cs@ecbisrescons.com
Copyright@2017 ecbisrescons.com