5 EKSPORTIR PLASTIK FILM TERBESAR DI INDONESIA
JAKARTA – ECBISRESCONS Selain memasarkan produknya ke pasaran local hampir semua produsen plastic film Indonesia memperjuangkan untuk meraih pasar internasional. Misalnya PT Trias Sentosa Tbk. tahun ini ingin meningkatkan pasar ekspornya sebesar 45%-46%, hal ini sejalan dengan penambahan dua mesin metalizing di pabrik Krian Sidoarjo. Presiden Direktur Trias Sentosa Sugeng Kurniawan mengatakan dua mesin produksi converting itu berkapasitas masing-masing 1.200 ton/tahun satu mesin mulai beroperasi pada Agustus 2016, dan satu mesin beroperasi mulai 2017.
Dengan memiliki 6 lini produksi BOPP Film serta 2 lini produksi polyester film (BOPET) membuat perusahaan ini semakin memperkokoh dirinya sebagai perusahaan plastik film terbesar. Terbukti perusahaan ini juga mulai memasuki pasaran ekspor, dimana sebagian besar penjualannya ditujukan ke Amerika Serikat, Jepang dan Eropa. Untuk mendukung itu, perusahaan ini melakukan langkah-langkah ekspansi usaha hingga ke Singapore, dengan mendirikan kantor representatif, dan China, dengan akuisisi Tianjin Sunshine Plastics Tianjin China.
Menurut Direktur Utama PT Trias Sentosa, Sugeng Kurniawan, selama ini Jepang merupakan negara konsumen yang paling penting bagi produk ekspor perusahaannya. Sekitar 35% produk Trias Sentosa diekspor ke Jepang. Volume ekspor ke negara itu terus tumbuh secara signifikan. Akibat radiasi nuklir, ekspor produk BOPP ke Jepang akan meningkat dua digit. Selama ini produk BOPP di Jepang selain digunakan secara luas bagi industri buku, juga untuk industri makanan. Namun ada yang menggunakannya untuk mengemas sayuran. Terganggunya industri produk makanan akibat radiasi nuklir, membuat permintaan produk BOPP film dari Indonesia mengalami pertumbuhan yang sangat tinggi.
Selain PT Trias Sentosa tentunya produsen lainnya juga melakukan hal yang sama, seperti misalnya PT Argha Karya Prima Industry Tbk., PT. MC PET Film Indonesia, PT Indopoly Swakarsa Industry Tbk., PT Indonesia Teijin Dupont Films dan PT Kolon Ina. Berikut uraiannya:
PT. TRIAS SENTOSA
Perusahaan ini didirikan pada tanggal 23 November 1979, PT. Trias Sentosa Tbk mulai beroperasi secara komersial pada tahun 1986. Dengan kapasitas total saat ini sebesar ± 67.000 MT per tahun untuk Biaxially Oriented Polypropylene (BOPP) Film dan ± 30.000 MT per tahun untuk Biaxially Oriented Polyester (BOPET) Film, perusahaan telah menjadi produsen film kemasan fleksibel terbesar di indonesia saat ini. PT. Trias Sentosa Tbk berkomitmen untuk menyediakan layanan yang komprehensif bagi pelanggannya. Selanjutnya dalam penyediaan BOPP dan BOPET film, perusahaan juga menawarkan solusi secara menyeluruh atas produk kemasan plastik untuk pelanggan kami di seluruh dunia.
Produk kemasan fleksibel ini dikembangkan dan diproduksi secara spesifik menurut kebutuhan masing masing pelanggan. Untuk memastikan bahwa setiap produk yang dihasilkan menghasilkan nilai bagi pelanggan dan melampaui standard internasional, maka setiap penelitian dipelajari secara hati hati dan dikembangkan secara cermat.
Dalam upaya yang berkesinambungan untuk meningkatkan dan memberikan yang terbaik, PT. Trias Sentosa Tbk didukung oleh tim manajemen yang solid, sumber daya manusia yang kompeten, bahan baku yang berkualitas tinggi dan mesin mesin yang tepat guna. Selanjutnya perseroan mempunyai kebijakan untuk menerapkan prinsip tata kelola perusahaan yang baik yang memastikan bahwa prinsip prinsip bisnis seperti tanggung jawab, transparansi, dan akuntabilitas dilaksanakan sepenuhnya untuk mendukung keberhasilan perseroan.
Menurut penelitian ECBISRescons pada tahun 2016 lalu PT Trias Sentosa berhasilkan mengekspor plastic film sebanyak 43.512 ton dengan nilai US$ 106,6 juta. Negara yang paling banyak mengimpor adalah Japan yaitu sebanyak 3.761 ton dengan nilai US$ 9,7 juta, kemudian disusul Amerika Serikat sebanyak 3.479 ton dengan nilai US$ 8,6 juta dan Thailand sebanyak 2.001 ton dengan nilai US$ 4,4 juta.
PT. ARGHA KARYA PRIMA INDUSTRY TBK.
PT Argha Karya Prima Industry Tbk, atau lebih dikenal dengan Argha, terbentuk pada tahun 1980, merupakan pelopor pada industri kemasan fleksibel di Indonesia. Perseroan mulai beroperasi secara komersial mulai tahun 1982 dengan pabrik yang berlokasi di kawasan Citeureup, Bogor, Jawa Barat. Di tahun 1993, Argha mendirikan anak perusahaan bernama Stenta Films (M) Sdn. Bhd., dan berlokasi di kawasan Bandar Baru Bangi, Malaysia. Saat ini, Perseroan memiliki total kapasitas produksi terpasang yang mencapai hampir 132.500 ton per tahun, sehingga menjadikan Argha sebagai salah satu industri kemasan fleksibel terkemuka di Asia Tenggara
Sesuai dengan Anggaran Dasar, kegiatan usaha Perseroan antara lain bergerak dalam bidang perindustrian dan pemasaran barang-barang dari plastik dan menjalankan industri barang-barang dari plastik, termasuk jenis film Polypropylene dan Polyethylene Terepthalate. Produk utama yang dihasilkan Perseroan adalah kemasan fleksibel plastik film jenis BOPP (Biaxially Oriented Polypropylene) dan BOPET (Biaxially Oriented Polyethylene Terepthalate) atau Polyester. Masing-masing jenis plastik film tersebut dipasarkan dengan merek dagang ARLENE dan ARETA. Merek dagang tersebut telah dikenal cukup luas di dunia dan banyak digunakan antara lain untuk aplikasi kemasan makanan, rokok, laminasi kertas, label maupun pembungkus umum lainnya. Dalam proses produksinya, Perseroan telah mengacu pada beberapa standar internasional, antara lain standar manajemen mutu ISO 9001:2015 , ISO 22000:2005 atau Standarisasi FSMS (Food Safety Management System), dan SEDEX guna menghasilkan produk kemasan fleksibel yang bermutu tinggi.
Sepanjang tahun 2016, mesin baru BOPP Line 7 telah berproduksi secara penuh, sehingga dapat membantu Perseroan dalam meningkatkan daya saing produknya. Inovasi produk dan pembukaan ceruk pasar baru yang dinilai potensial, baik dari dalam maupun luar negeri serta penerapan langkah-langkah strategis guna melakukan penetrasi pada pasar-pasar tersebut diharapkan dapat diserap oleh pasar secara optimal. Sebagai hasil dari penerapan langkah-langkah tersebut diatas, pada tahun 2016 Perseroan berhasil membukukan laba tahun berjalan sebesar Rp 52,39 milyar atau mengalami peningkatan sebesar 89,53% dibanding tahun sebelumnya sebesar Rp 27,64 milyar. Perusahaan memandang bahwa kinerja Direksi pada tahun 2016 relatif cukup baik. Hal ini terlihat dari strategi-strategi dan inovasi yang diterapkan mampu bersaing, baik di dalam maupun luar negeri. Strategi-strategi yang telah ditempuh dan diterapkan oleh Direksi mampu beradaptasi secara dinamis terhadap permintaan pasar yang semakin ketat dan semakin kompleks. Penerapan tata kelola bisnis yang baik (GCG) dalam semua aspek operasional secara konsisten dan berkelanjutan pada akhirnya membuat kinerja Perseroan meningkat dan mampu memberikan keuntungan yang optimal. Perusahaan juga telah melakukan kajian-kajian atas target usaha Perseroan yang telah disampaikan jajaran Direksi dan manajemen yang merupakan refleksi strategi jangka panjang perusahaan dan akan dicapai pada tahun-tahun mendatang.Dengan meninjau pencapaian pada tahun 2016 ini, Perseroan akan terus mencapai peningkatan pada tahun-tahun mendatang secara berkelanjutan.
Dari hasil penelitian ECBISRescons, perusahaan ini pada tahun 2016 lalu berhasil mengekspor plastic film sebanyak 41.4945 ton dengan nilai US$ 96,1 juta. Sedangkan Negara yang paling banyak menyerap adalah Thailand yang pada tahun tersebut mengimpor sebanyak 3.290 ton dengan nilai US$ 5,5 juta, disusul Philipines sebanyak 2.423 ton dengan nilai US$ 5,7 juta dan Vietnam sebanyak 2.356 ton dengan nilai US$ 4,9 juta.
PT. MC PET Film Indonesia (PT MPFI)
Semula perusahaan ini bernama P.T. BAKRIE DIAFOIL, yang didirikan pada Januari 1995 dengan modal dasar US$ 8,000,000 yang seluruhnya telah ditempatkan dan disetor penuh. Pendiri dan pemegang saham semula perusahaan itu adalah DIAFOIL HOECHST Co. Ltd., dari Japan dan P.T. MITSUBISHI CHEMICAL INDONESIA (Ex. P.T. Bakrie Kasei Corporation), sebuah perusahaan swasta dari Indonesia. Akte notaries perusahaan ini telah mengalami perubahan beberapa kali. Pada Februari 1997, modal dasar perusahaan ini ditingkatkan menjadi US$ 35,000,000 yang seluruhnya telah ditempatkan dan disetor penuh. Pada Februari 1999 DIAFOIL HOECHST Co. Ltd., mengundurkan diri dan sahamnya dibeli oleh MITSUBISHI POLYESTER FILM Corp., dari Japan. Dan pada Juli 2000, nama perusahaan ini diganti dari P.T. BAKRIE DIAFOIL menjadi P.T MC PET FILM INDONESIA (P.T. MPFI).
Terakhir pada Agustus 2008, pemegang saham P.T. MPFI tercatat adalah MITSUBISHI PLASTICS Inc., dari Japan (97.87%) dan P.T. MITSUBISHI CHEMICAL INDONESIA dari Indonesia (2.13%). Sejak saat itu tidak ada lagi perubahan pemegang saham ataupun permodalannya hingga kini. P.T. MITSUBISHI CHEMICAL INDONESIA adalah sebuah perusahaan swasta nasional yang bergerak dibidang purified terepthalic acid (PTA) industry, yang majoritas sahamnya dimiliki oleh MITSUBISHI CHEMICAL Corp., dari Japan.
P.T. MPFI sudah beroperasi sejak Juli 1996 dalam bidang industri polyester film, yang pabriknya berlokasi di Jalan Raya Merak, Desa Gerem, Serang, Banten diatas lahan seluas 32.100 meter persegi. Pabrik tersebut berlokasi disamping pabrik P.T. MITSUBISHI CHEMICAL INDONESIA. P.T. MPFI memproduksi polyester film dan pabriknya sudah melakukan perluasan beberapa kali. Pabrik tersebut menyerap investasi sebesar US$ 121.0 juta yang bersumber dari modal perusahaan US$ 35.0 juta dan sisanya bersumber dari modal pinjaman. Pabrik tersebut mempunyai kapasitas produksi sebanyak 24.200 tons polyester films per tahun. Bahan bakunya berupa purified terepthalic acid (PTA), PET (Brick Resin) dan PET (Master Batch Resin) diperoleh dari P.T. MITSUBISHI CHEMICAL INDONESIA yang memproduksi PTA dan PET resin. Sedangkan bahan baku lainnya seperti ethlne glycol, triethylene glycol dan sodium hydroxide diperoleh dari beberapa supplier di dalam negeri.
Sekitar 75% dari hasil produksi perusahaan ini dijual ke pasar dalam negeri antara lain industri kemasan fleksibel (flexible packaging), industri kabel telepon, industri pita film dan lainnya. Sisanya sekitar 25% diekspor ke Singapore, Hong Kong, Australia dan Negara Asia lainnya. Selain itu perusahaan ini juga sedang menjajaki ekspor ke berbagai negera di Eropa dan Amerika Serikat.
Dari hasil penelitian ECBIS Rescons diketahui bahwa pada bulan Januari hingga April 2014, perusahaan ini telah berhasil mengekspor BOPET Film keberbagai negara sebanyak 5.672 ton dengan nilai US$ 21,6 juta. Sebagian besar diekspor ke Mitsubishi Plastics, Inc. Jepang, sebanyak 3.363 ton dengan nilai US$ 11,9 juta. Untuk lebih jelasnya lihat tabel dibawah.
PT. INDOPOLY SWAKARSA INDUSTRY TBK.
PT Indopoly Swakarsa Industry Tbk. (selanjutnya disebut sebagai “Perseroan”) secara resmi menjalankan bisnisnya dalam industri pembuatan flexible packaging pada tanggal 24 Maret 1995 di Jakarta – Indonesia, berdasarkan Akta No. 114 tertanggal 24 Maret 1995. Kegiatan usaha utama dari Perseroan adalah memproduksi film lembaran berkualitas premium yang digunakan dalam pengemasan makanan, pengemasan non-makanan, industri laminasi grafis dan lainnya. Perseroan membawahi merek dagang yang memproduksi film Biaxially-Oriented Polypropylene (BOPP) dan Biaxially-Oriented Polyester (BOPET).
Dengan kinerja optimal dan pertumbuhan yang berkelanjutan selama bertahun-tahun, pada tanggal 9 Juli 2010, Perseroan mengubah statusnya sebagai Perseroan Terbuka dengan melakukan Penawaran Umum Perdana (IPO) dengan melepas 2.300.178.500 lembar saham. Perseroan secara resmi tercatat dalam Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan nama PT Indopoly Swakarsa Industry Tbk dengan kode dagang ‘IPOL’.
Saat ini Perseroan melayani lebih dari 250 konsumen secara global dengan jangkauan produk-produk yang luas. Produk-produk tersebut dikategorikan ke dalam 3 (tiga) segmen, yaitu kemasan rokok, kemasan makanan dan film khusus yang termasuk juga kemasan hijau (ramah lingkungan) dan juga film-film laminasi grafis. Dalam menjaga kualitas produk, Perseroan secara konsisten menjalankan riset, meningkatkan teknologi sekaligus juga mengembangkan produk-produk diversifikasi yang menawarkan nilai tambah dan selalu memenuhi permintaan konsumen yang terus berubah. Belakangan ini, Perseroan telah mengembangkan 3 (tiga) produk baru:
Perseroan akan terus melangkah maju dan menguatkan posisinya sebagai perusahaan manufaktur flexible-packaging terdepan. Kegiatan Usaha Menurut Anggaran Dasar Terakhir Berdasarkan akta perubahan terakhir Perseroan No. 45 tanggal 12 Mei 2015 dibuat dihadapan Kumala Tjahjani Widodo, SH., MH., MKn., Notaris di Jakarta yang telah diterima dan dicatat di dalam Sistem Administrasi Badan Hukum Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dengan surat pemberitahuan No. AHU-AH.01.03-0935588 tanggal 28 Mei 2015.
Kegiatan usaha Perseroan adalah sebagai berikut:
Menurut penbelitian ECBISRescons, pada tahun 2016 lalu perusahaan ini berhasil mengekspor berbagai jenis plastic film keberbagai Negara dengan jumlah 17.608 ton dengan nilai US$ 44,6 juta. Plastif film ini sebagian besar di tujukan ke Korea dengan jumlah 2.477 ton dengan nilai US$ 6,3 juta. Negara lainnya yang juga banyak mengkonsumsi plastic film PT Indopoly adalah Philipine dan Asustralia, kedua Negara tersebut masing-masing mengimpor sebanyak 1.905 ton dengan nilai US$ 4,7 juta dan 1.838 ton dengan nilai US$ 4,8 juta.
PT. INDONESIA TEIJIN DUPONT FILMS
PT Teljin Indonesia Fiber Corporation Tbk (Perusahaan) didirikan di Republik Indonesia dalam rangka Undang-undang Penanaman Modal Asing No. 1 tahun 1967 berdasarkan akta No. 60 tanggal 25 Oktober 1973 dari Notaris Eliza Pondaag, S.H., yang diubah dengan akta No. 37 tanggal 18 April 1974 dari Notaris yang sama. Akta pendirian ini telah disahkan o!eh Menteri Kehakiman dalam Surat Keputusan No. Y.A.5/143114 tanggal 29 April 1974 dan diumumkan dalam lembaran Berlta Negara Republik Indonesia No. 54, Tambahan No. 295 tanggal 5 Juni 1974.
Perusahaan ini didirikan dengan modal dasar US$ 30,000,000 yang seluruhnya telah ditempatkan dan disetor penuh. Pendiri dan pemegang saham semula perusahaan itu adalah TEIJIN LIMITED dan TOYO MENKA KAISHA (sekarang bernama TOMEN Corp.), keduanya dari Japan. Akte notaries perusahaan ini telah mengalami perubahan beberapa kali. Pada Februari 1980, perusahaan itu go public dengan menjual 1.100.000 saham seharga Rp. 7.250 per lembar kepada masyarakat melalui pasar modal Jakarta.
Berdasarkan Repat Umum Pemegang Saham luar Biasa yang diaktakan dalam Akta No. 02 tanggal 2 Juni 2008 dari Notaris Budiono Wldjaja.S.H, para pemegang saham menyetujui mengubah Anggaran Dasar Perusahaan untuk disesuaikan dengan ketentuan Undang-undang Perseroan Terbatas No. 40 tahun 2007, termasuk di dalamnya mengubah nama Perusahaan yang semula bemama PT Teijin Indonesia Fiber Corporation Tbk menjadi PT Teijin Indonesia Fiber Tbk dan meningkatan modal dasar dan modal disetor Perusahaan dengan carll mengkonversi hutsng kepada Teijin limited, Jepang. Pemegang Saham, sebesar US$30.000.000 menjadi saham baru, Perubahan ini telah dishkan oleh Badan Koordlnasi Penanaman Modal dalam Surat Keputusannya No. 1344n1l1PMAI2008 tanggal 19 Agustus 2008. Perubahan Ini juga telah mendapat Persetujuan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia dalam Surat Keputusannya No. AHU-74186.AH.01.02. Tahun 2008 tanggal 15 Oktober 2008.
Berdasarkan Rapat Umum Pemegang Saham luar biasa yang diaktakan dalam Akta No.03 tanggal 3 Juni 2009 dali Notaris Budiono Widjaja, S.H., para pemegang saham menyetujui peningkatan modal dasar dan modal disetor Perusahaan dengan cara mengkonversi hutang kepada Teijin limited, AS$56.ooo.ooo menjadi 1.209.600.000 saham baru melalui mekanlsme penambahan modal tanpa hak memesan efek terleblh dahulu sesuai dengan Peraturan Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM) No.IX.D.4. Perubahan ini kemudian disahkan oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal dalam Surat Keputusannya No. 1029n1l1PMAI2009 tanggal 5 Agustus 2009. Perubahan ini juga telah mendapat Persetujuan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia dalam Surat Keputusannya No. AHU-38829.AH.01.02. Tahun 2009 tanggal 11 Agustus 2009.
Berdasarkan Rapat Umum Pemegang Saham luar Biasa yang diaktakan dalam Akta No.132 tanggal 15 Maret 2010 dali Notaris Sutjipto, S.H.,M.Kn para pemegang saham menyetujui peningkatan modal dasar dan modal dasar disetor Perusahaan dengan cara mengkonversi pinjaman dari Teijin limited sebesar AS$99.760.000 (terdiri dari JP¥7.994.936.000 dan AS$12.000.000) menjadi 1.859.526.400 saham baru melalui mekanisme panambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu sesuai dengan Peraturan Badan Pengawasan Pasar Modal dan lembaga Keuangan (BAPEPAM-lK) No.lX.D.4. sehingga Modal dasar dan modal disetor Perusahan menjadi Rp 2.411.538.200.000 yang terdiri dari 4.823.076.400 saham dengan nilai nominal Rp500 per !embar saham. Para pemegang saham juga menyetujui perubahan nama Perusahaan nama dari PT Teijin Indonesia Fiber Tbk., menjadi PT Tifico Fiber Indonesia., serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris Perusahaan.
Persetujuan para pemegang saham atas perubahan nama tersebut kemudian dinyatakan dalam Akta No. 33 tanggal 7 April 2010 dari Notaris Aulia Taufani. S.H. Perubahan Anggaran Dasar ini telah mendapat persetujuan dari Badan Koordinasi Penanaman Modal dalsm Surat Keputusannya No. 277/1/1UnIlIPMAIINDUSTRI12010 tertanggal 12 Mei 2010 dan dari Menteli Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dalam Surat Keputusannya NO.AHU-20932.AH.01.02.Tahun 2010 tertanggal 23 April 2010. Berdasarkan Rapat Umum Pemegang saham luar Biasa yang diaktakan dalam Akta No. 249 tanggal 30 juni 2010 dari Notaris Aulia Taufani. S.H., para pemegang saham menyetujui mengubah Anggaran Dasar Perusahaan, termasuk didalamnya.
Perusahaan ini bergerak dibidang industri polyester chip dan polyester filament yarn. Mereka mengelola sebuah pabrik yang berlokasi di Jalan M.H. Thamrin, Desa Panunggangan, Tangerang, Banten provinsi diatas lahan seluas 63.4 hectares. Pabrik tersebut sudah beroperasi komersil sejak tahun 1976 dan pabriknya telah beberapa kali mengalami perluasan. P.T. TIFICO memperoleh bahan baku PTA (purified terephtalic acid) dari P.T. MITSUBISHI CHEMICAL INDONESIA (ex. PT. Bakrie Kase Corporation), P.T AMOCO MITSUI PTA INDONESIA TOYOTA TSUHO Corp., dan lain-lain. Disamping itu perusahaan ini juga membeli sejumlah bahan baku dari sejumlah supplier khusus seperti TEIJIN SHOJI Co., Ltd., TEIJIN FIBER Ltd., (keduanya dari Japan), TEIJIN POLYESTER (Thailand) Ltd., TEIJIN POLYESTER (Thailand) Ltd., keduanya dari Thailand dan lainnya.
Hasil produksi P.T. TIFICO dipasarkan dengan menggunakan merek STRAKIS, SILFANI, SILPUTI, SRABALI dan SILPUTRI. Sekitar 90% dari hasil produksinya dijual ke pasar dalam negeri dan sisanya diekspor ke Jepang, Republik Rakyat China, Hong Kong, Timur Tengah dan Negara Eropah. Komposisi produksinya adalah 56.5% berupa polyester staple fiber, 29.4% berupa polyester filament yarn dan 14.1% berupa polyester chip.
PT. Kolon Ina (PT KI)
Perusahaan ini didirikan pada Juli 1995 dengan modal dasar US$ 40,000,000 dan modal ditempatkan US$ 10,000,000 yang telah disetor penuh. Pendiri dan pemegang sahamnya adalah KOLON INDUSTRIES Inc., dari Korea Selatan sebagai mitra asing dan Mr. Tawi Rahardjo, seorang pengusaha Indonesia keturunan China sebagai mitra lokal. Akte notaries perusahaan ini telah mengalami perubahan beberapa kali.
Terakhir, pada Desember 2008, modal ditempatkan dan disetor ditingkatkan menjadi US$ 20,000,000 Pemegang saham terakhir P.T. KI adalah Kolon Industries Inc., dari Korea Selatan (78.75%), Mr. Tawi Rahardjo (10.63%) dan Mr. Prihanto Ekoputro Sunjoto (10.62%), keduanya pengusaha Indonesia keturunan China. Sejak saat itu tidak ada lagi perubahan permodalan ataupun pemegang sahamnya dalam perusahaan ini.
Mitra lokal yaitu Mr. Tawi Rahardjo dan Mr. Prihanto Ekoputro Sunjoto adalah pendiri dan pemilik mayoritas saham dari P.T. INAMULTI INTIPACK yang bergerak dibidang industri kemasan fleksibel, P.T. PRIMA BOBINDO dalam bidang industri pembuatan paper tube dan P.T. PRIMAMAKMUR ROTOKEMINDO dalam bidang industri pembuatan kemasan plastic fleksibel.
P.T. KI adalah sebuah perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA) yang mendapat fasilitas dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM untuk bergerak dibidang industri pembuatan polyester and nylon film. Pabriknya berloksi di Jalan Raya Jakarta – Serang Km. 80, desa Walantaka, Ciruas, Serang, Banten di atas lahan seluas 100,000 meter persegi. Pabrik itu sudah beroperasi sejak April 1997 dengan kapasitas produksi sebanyak 10.000 ton polyester film dan diteruskan dengan produksi nylon film sebanyak 4.200 tons pada Nopember 1997. Pembangunan pabrik tersebut menyerap investasi sebesar US$ 75.0 juta terdiri dari modal perusahaan sebesar US$ 10.0 juta dan selebihnya bersumber dari modal pinjaman. Sekitar 65% dari produksi polyester film diekspor ke Korea Selatan, Malaysia, Philippines, Taiwan, Amerika (USA) dan Negara-negara Asia Pacific, dan sisanya dijual ke pasar dalam negeri terutama kepada perusahaan industri kemasan plastic dan percetakan, dan lain sebagainya.
Sejak tahun 2000 hingga saat ini, P.T. KI memusatkan pemasarannya untuk permintaan luar negeri (export). Dalam hal ini P.T. KI didukung pemasarannya oleh partner asingnya yaitu KOLON INDUSTRIES dari Korea Selatan, yang sudah memiliki jaringan pemasaran luas di luar negeri.
Jl. Robusta Q7/1 Pondok Kopi Jakarta 13460 | Phone/WA : (+62) 0819 0538 1421 | Email : cs@ecbisrescons.com
Copyright@2017 ecbisrescons.com